Early Detection… as easy as 1,2,3…

This is another repost from My Purple World

Still part of our campaign for breast cancer and sharing my experience as well in fighting this battle.

Healthy food, regular exercise and no stress….
Sounds familiar?
It’s the super recipe for a healthy life…
 
“Jangan lupa jaga makanan…olah raga yang rajin, dan jangan stress ya…”
 
Rasanya hampir semua orang sering mendengar nasihat yang sama. Mau itu dari keluarga, teman kantor, kekasih, atau dokter. 
 
Seandainya  dunia ini sempurna…Rasanya kita semua ingin hidup sehat, makan teratur, menikmati olah raga dan hidup tanpa stress! Dan saya, pasti udah duluan daftar di dunia ideal ini.:)…
 
Tapi, nothing is perfect...Although we have strived to life better and better everyday, but anything can happen.  That includes my new fight with cancer. 

Meski hidup penuh dengan pilihan yang bijak dan benar, seringkali kita memilih yang rute yang ‘salah’ simply karena kita pengen aja. Makan sembarangan, menggampangkan olahraga dan seringkali larut dengan pekerjaan yang berbalut stress.

 
Well, setelah sedikit intro dari saya mengenai ‘kado’ teranyar dari Penciptaku, bahwa saya positif menderita kanker payudara, life must go on!
 
Of course it willLife must go on…
With or without my breast cancer,  I will continue to embrace it with hope, love and joy ♡♡♡. Nothing works better and magical than having the positive energy from within and your surrounding. And for that, I am totally blessed with such supportive family, encouraging friends and colleagues as well as people around me. Alhamdulilaaah. ..
 
But  before I continue my story on a rather painful tone towards recovery – remember, no pain no gain 🙂 – perhaps its good to share some early detection steps this time.


 

Never forget, cancer can happen to anyone, any women.

 
Bukan bermaksud menakuti-nakuti, tapi kanker payudara memang bisa terjadi pada setiap perempuan. Walaupun perempuan dengan sejarah kesehatan dan kondisi tertentu biasanya memang memiliki resiko lebih tinggi.
 
Beberapa perempuan yang memiliki resiko tinggi terkena kanker payudara antara lain:

– perempuan dengan sejarah keluarga dekat (ibu, tante, wa, nenek dan keluarga dekat yang menderita kanker payudara, serviks, maupun kanker lainnya dari keluarga dekat laki-laki.

– perempuan yang memiliki inherited changes or keturunan pada gen yang terkait dengan kanker payudara (biasanya disebut gen BRCA 1 dan BRCA 2)

 
– perempuan dengan breast tissue yang padat atau memiliki kondisi tertentu sehingga terjadi pertumbuhan sel yang berlebihan pada breast tissues
 
– perempuan yang pernah terkena kanker dan kankernya tumbuh kembali atau menyebar ke daerah lain.

– perempuan yang pernah melakukan terapi radiasi di daerah dada sebelumnya

– perempuan yang menjalani terapi hormon pasca menopause jangka panjang dengan menggunakan estrogen dan progesteron (bias dikenal sebagai kombinasi PHT).

Beberapa faktor yang dianggap turut meningkatkan resiko kanker payudara adalah:

 
– perempuan yang memulai sirkulasi mens di usia muda
– perempuan yang mendapat menopause di usia relatif senja 
– perempuan yang tidak memiliki anak 
– perempuan yang mengalami kehamilan pertama saat usia di atas 30 tahun
– perempuan yang kelebihan berat badan
– perempuan dengan gaya hidup tidak sehat (junk food lovers, merokok, minum alkohol, stress)
 
Namun demikian, ini hanya indikator yang kerap menjadi pola yang menentukan rendah atau tingginya resiko seorang perempuan terkena kanker payudara. Banyak kasus di mana faktor-faktor di atas tidak selalu terpenuhi, namun tetap terkena kanker payudara.
 

Then can we prevent it? How to detect it at the earliest stage?

Apakah kita bisa mencegahnya? Bagaimana mendeteksinya sejak dini?
 
Ada beberapa langkah yang bisa diambil tentunya.
And prevention – or at least early detection will always be best!
 
Pertama SADARI…atau periksa payudara sendiri. 
Breast self-exam will be a great help! Check your own breast. 
Frankly, I’ve seen the leaflet and postur of this in many hospitals and clinics. 

Tapi jujur saja, saya hanya baca sepintas dan tidak selalu mempraktikkannya. 
Padahal sederhana teman….Saat mandi atau menjelang tidur, raba PD dengan jari sambil merasakan apakah ada benjolan atau jaringan padat yang lain dari sekitarnya. Memang seringkali terlewat karena kita pikir hanya jaringan otot biasa atau kalau teman-teman yang pernah menyusui, rasanys seperti kelenjar susu namun agak padat dan tidak berpindah. 

 
Posisi untuk memeriksanya akan lebih mudah jika kita berbaring  dan tangan diangkat ke atas.Check all areas, termasuk seluruh bagian PD, menuju ke arah leher, ketiak,  bagian tengah dada hingga sisi dekat tulang rusuk. Payudara memang dekat dengan berbagai posisi kalenjar getah bening, salah satunya di ketiak, yang berpotensi membawa sel2 berbahaya ini ke daerah lain di tubuh kita.
The reason why I got suspicious is because I find one lump on my right breast, but none in my left one. Kalau kanan ada tapi di kiri ngg, or the other way around or even both, berarti lebih baik periksa lebih lanjut.
 
So next, contact you doctor for a breast exam. Periksa ke dokter atau klinik. Jika dokter spesialis susah jadwalnya, dokter umum pun bisa membantu memeriksa. Jika berusia 40 tahun ke atas, periksa setiap tahun. Jika berusia 20an or 30an, periksa setiap 3 tahun. Dan biasanya, jika ditemukan benjolan atau sel yg mencurigakan,  Maka akan direkomendasikan untuk dirindaklanjuti.

Beberapa pertanyaan yang diajukan ke saya saat dokter melakukan breast-exam antara lain:

apakah saya baru selesai menstruasi atau akan segera memulai siklus menstruasi? ini penting karena payudara cenderung membengkak karena ada perubahan hormon sehingga bisa memberikan hasil yang kurang akurat. Jadi lebih baik memeriksa di saat sedang tidak menstruasi. Namun jika benjolan tetap terasa sesudah maupun sebelum mentstruasi, lebih baik segera diperiksa.

apakah benjolan yang dirasakan menimbulkan rasa nyeri atau tidak nyaman? jika menimbulkan rasa nyeri atau sakit, diindikasikan ada sesuati yang serius. Dalam kasus saya, saya tidak merasa sakit atau nyeri sama sekali, hanya terasa ada benjolan atau penebalan.

apakah sering merasa cepat letih atau gampang capek padahal tidak melakukan kegiatan berat? ini merupakan salah satu tanda-tanda adanya perubahan sel tubuh. Saya sendiri tidak merasa ada perubahan yang berarti dan tetap sehat serta segar menjalani kegiatan sehari-hari.

– apakah ada cairan atau discharge yang keluar dari puting? Jika ada, ini juga merupakan gejala yang perlu diwaspadai. Saya sendiri tidak mengalami hal ini.

– apakah ada perubahan warna (menjadi kemerah-merahan) atau tekstur kulit  (berkerut seperti kulit jeruk misalnya) di sekitar daerah benjolan atau payudara secara umum? Ini pun menjadi salah satu gejala yang perlu diwaspadai. Lagi-lagi, saya tidak mengalami hal ini meskipun benjolan terasa di payudara kanan.

 
Another step that can help is take mammogram.  Biasanya, perempuan tanpa keluhan atau kondisi khusus seperti di atas disarankan untuk mamogram setelah usia di atas 40 tahun. Di bawah usia itu, jaringan massa di PD memang lebih padat dan mammogram menggunakan radiation tingkat rendah jadi tidak diajukan kecuali memang perlu. 
 
The good thing about mammogram is that it can detect even a very small lump or cancer. Bahkan pre cancer cell.  Ini yang membedakan mamogram dengan USG atau sonografi. Seringkali kita baru bisa merasakan benjolan jika ukurannya sudah agak besar dan semakin besar ukurannya, semakin tinggi resiko yang dihadapi.
 
So, those where some steps that we can take to detect Breast Cancer at the early stage.

As I quoted up there on our best defense, “when breast cancer is found in its earliest stages, the chance for successful treatment is greatest.” 
 
And I will soon be back with my own my breast cancer story.
Meanwhile, stay healthy people..
Enjoy life and be grateful :)..


Artikel ini diikut sertakan pada

Written from various resources and booklets from American Cancer Society, including my own experience.
Advertisements